Jumat, 24 Januari 2014

INTENSITAS BANJIR (PRA DAN PASCA JOKOWI)



NAMA            : DELLA IRFIANIS
NPM               : 21211825
KELAS           : 3EB10


 
 
 

Dua pekan terakhir banjir dan genangan mengepung DKI Jakarta. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemprov DKI Jakarta, Manggas Rudy Siahaan, Kamis 23 Januari 2014, mengungkapkan empat masalah penyebab banjir di ibu kota yang selalu berulang setiap tahun. Permasalahan ini tidak pernah terselesaikan sejak lama. Penyebab pertama, debit air di hulu Jakarta yang ekstrem," ujar Rudy di kantor PU, Jakarta.

Tinggi muka air Bendungan Katulampa di Jawa Barat, menurut Rudy, beberapa hari lalu mencapai 180 cm atau lebih tinggi 10 cm dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini mendorong air kiriman ke ibu kota juga meningkat hingga volume 300 ribu meter kubik per detik. Sedangkan, kemampuan dan daya tampung 13 sungai utama dan 884 saluran penghubung di ibu kota tidak sebanding dengan besarnya air kiriman tersebut.

Penyebab kedua, kondisi sungai dan saluran penghubung yang ada di Jakarta telah mengalami penurunan kapasitas lebih dari 50 persen. "Ciliwung yang harusnya mempunyai lebar 50 meter bersama jalan inspeksi sekarang tinggal sekitar 20 meter. Dampaknya Kampung Pulo pasti terendam," kata Rudy. Ia menambahkan, bila posisi lebar Kali Ciliwung normal, maka posisi Kampung Pulo, Jakarta Timur, akan berada di tengah sungai. Ini salah satu dasar Pemerintah Provinsi DKI tetap akan merelokasi kawasan langganan banjir tahunan ini.

Sungai Pesanggrahan, ia melanjutkan, kondisinya juga memprihatinkan. Saat air meluap, wilayah Ulujami pasti terendam. Kondisi sama bila permukaan air di Kali Krukut naik, banjir akan menggenangi kawasan Petogogan. Kegelisahan juga membayangi warga yang tinggal di wilayah Duren Tiga dan Pondok Karya bila Kali Mampang meluap. Adapun 884 saluran penghubung, kata Rudy, kondisinya lebih dari 70 persen rusak parah. "Lahan saluran dikooptasi pemukiman liar. Selain itu kabel-kabel dan pipa perusahaan membuat fungsi drainase tidak lebih dari 30 persen," katanya.

Penyebab ketiga, adalah rob atau laut pasang. Kondisi di mana air laut naik kepermukaan dan menahan air yang datang dari hulu. Kondisi ini menjadikan Jakarta terendam banjir, karena arus air yang dari hulu semestinya lancar menuju laut justru tertahan rob. "Jakarta mempunyai 32 kilometer garis pantai di pesisir utara. Kita tidak mempunyai turap untuk menahan ombak. Kita perlu membangun turap sepanjang 6 kilometer agar air rob tidak bebas masuk ke wilayah Kamal Muara, Angke, Cilincing, dan Marunda," kata Rudy.

Dan penyebab terakhir, adalah rusaknya tata kota sejak lama. Menurut dia, banyak perubahan fungsi ruang di mana lahan seharusnya menjadi tempat resapan justru dibangun untuk kawasan komersil.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar