NAMA :
DELLA IRFIANIS
NPM : 21211825
KELAS :
3EB10
Penjualan emas pada 2014 diprediksi masih stabil
menyusul tren harga emas dunia yang cenderung turun serta pelemahan kurs rupiah
terhadap dolar AS. Penjualan emas cenderung stabil di tahun ini, tidak naik dan
tidak turun. Dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan harga emas dunia
yang cenderung turun membuat daya beli masyarakat terhadap perhiasan emas masih
stabil,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI)
Kota Semarang, Bambang Yuwono, kemarin. Selama ini tren harga emas, kata dia, dipengaruhi
oleh dua faktor. Pertama, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS serta harga
emas dunia. Harga emas memang tidak bisa diprediksi karena harganya selalu
bergerak menyesuaikan harga emas dunia.
Harga emas dunia tergantung situasi ekonomi pasar
global. Menurut Bambang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus
melemah apabila situasi perekonomian Indonesia tidak kondusif. Apalagi tahun
ini, akan digelar pesta demokrasi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.
Bambang memperkirakan, situasi selama Pemilu akan menentukan nilai tukar
rupiah. Kalaupun situasi selama Pemilu aman dan berlangsung kondusif dapat
dipastikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat. ”Saya kira
Pemilu berlangsung aman. Dengan begitu, harga emas cenderung stabil. Sehingga,
diharapkan daya beli emas kembali bergairah,” tutur pemilik toko emas Dewi Sri
di Jalan KH Agus Salim.
Cenderung Turun
Tercatat, belakangan ini harga perhiasan emas
cenderung turun. Pada Rabu (15/1) emas perhiasan kadar 99% mencapai Rp 487 ribu
per gram turun dari semula Rp 480 ribu per gram. Harga emas dengan kadar 75%
sebesar Rp 440 ribu per gram turun dari Rp 430 ribu per gram. Sedang, emas
dengan kadar 42% mencapai Rp 240 ribu per gram turun dari sekitar Rp 230 ribu
per gram. Turunnya harga emas, imbuh Bambang, tidak disertai dengan peningkatan
penjualan.
Daya beli masyarakat terhadap perhiasan masih lesu.
Kurun dua hari terakhir, penjualan emas cenderung sepi. Terjadi penurunan
penjualan sebesar 30%. Penjualan perhiasan emas merosot sejak awal Januari
lalu. Kondisi ini dipengaruhi kenaikan harga elpiji 12 kilogram dan
melambungnya bahan-bahan pokok,” ujarnya. Kenaikan elpiji 12 kg membuat
masyarakat menunda untuk membeli perhiasan emas. Mereka lebih mengutamakan
kebutuhan pokok dibanding membeli perhiasan emas. Daya beli masyarakat
cenderung menurun, terutama masyarakat perkotaan. Selama ini, kata Bambang,
masyarakat kota mengandalkan sisa penghasilan mereka untuk membeli perhiasan.
Jika ada sisa penghasilan mereka membeli perhiasan emas untuk investasi.
Bila pelemahan nilai tukar Rupiah terus dibiarkan,
maka pada akhirnya akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Bahkan,
akan terjadi penurunan daya beli masyarakat, yang nantinya memengaruhi
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Anggota Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan
Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Ina Primiana mengatakan, pemerintah
sedari dini harus bersegera mengeluarkan kebijakan yang dampaknya dapat
terlihat dalam jangka waktu pendek, yakni terkait melemahnya nilai tukar Rupiah
terhadap dolar AS.
Ina berpendapat, pemicu rupiah melemah sekarang ini
dikarenakan meningkatnya kebutuhan valas akibat ditariknya dana-dana asing di
pasar modal, jatuh temponya pembayaran utang luar nNegeri, baik pemerintah
maupun swasta dan adanya pembelian barang impor.
“Ini seharusnya segera dilakukan kebijakan yang
memang bisa membuat Rupiah kita tidak melemah terus. Karena akan ada dampak
yang terjadi bila pelemahan Rupiah itu tidak segera diatasi”, kata Ina, dalam
diskusi “Penyebab Krisis Nilai Tukar dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Nasional”,
di Jakarta, Jumat, 6 September 2013.
Dampak pembiaran nilai tukar Rupiah yang
dimaksudkan, yakni akan menurunnya daya beli, meningkatnya kemiskinan, industri
akan mengalami kebangkrutan yang disusul dengan meningkatnya PHK, dan
terjebaknya Indonesia pada Middle Income Trap.
“Dapatkah paket kebijakan ekonomi menahan kondisi
yang lebih buruk. Apalagi, paket kebijakan ekonomi lebih tepat untuk jangka
menengah dan jangka panjang, dan bukan sekarang. Terlambat, karena
digelontorkan saat sudah terjadi turbulensi”, tegas Ina.