NAMA :
DELLA IRFIANIS
NPM :
21211825
KELAS :
3EB10
Ada eforia yang kini menghinggapi
sepakbola Indonesia. Ketika yang senior tak kunjung berprestasi, maka ketika
sekumpulan remaja ini mempertontonkan permainan dan semangat bertarung yang
menawan, mimpi dan harapan itu pun dipindahkan ke timnas U-19.
Keberhasilan meraih juara Piala AFF U-19 di Sidoarjo sebulan lalu, adalah
torehan gelar resmi sepakbola Indonesia setelah 22 tahun.
Indonesia terakhir meraih gelar juara di iven resmi ketika meraih medali emas
SEA Games Filipina tahun 1991. Ketika itu, tim asuhan Anatoly Polosin itu
mengalahkan Thailand lewat adu penalti.
Setelah itu, di banyak iven resmi yang diikuti, Indonesia nirgelar. Piala AFF
(dulu Piala Tiger) hanya memberi prestasi “hampir” juara, yakni empat kali
masuk final.
Sampai bulan lalu, tak banyak orang
yang tidak tahu siapa itu Evan Dimas, Ilham Udin Armiyn, Maldini Pali, dan
nama-nama lain di timnas U-19 itu. Tentu saja, karena mereka tidak beredar di
kompetisi lokal yang mengusung cap profesional, yang lumrahnya mendapatkan
ekspos besar dari media, dan dari mana pemain-pemain timnas diserap.
Anak-anak muda itu --mereka baru beberapa tahun melepas statusnya sebagai ABG (Anak Baru Gede) adalah
anak-anak SSB, pemain-pemain amatir, berasal dari berbagai daerah, serta jauh
dari gambaran bahwa pemain sepakbola adalah profesi yang mapan secara ekonomi.
Evan sang kapten, misalnya, ayahnya bekerja sebagai satpam sebuah pusat
perbelanjaan; atau Muhammad Factur Rohman yang bapaknya berjualan pakaian; atau
Maldini Pali yang orangtuanya "cuma" PNS; atau kiper Ravi Murdianto
yang bapaknya bekerja sebagai sopir mobil box sales alat tulis.
Latar belakang keluarga selalu menjadi cerita menarik untuk diketahui, walaupun
sejatinya bukan itu yang dicari oleh masyarakat Indonesia penggila sepakbola.
Yang mereka tahu, sampai bulan lalu, anak-anak muda itu ternyata memperlihatkan
sesuatu yang menjanjikan, yang selama ini entah terbang ke mana dari dunia
sepakbola di tanah air: prestasi.
U-19 tentu saja bukan level yang prestisius, bahkan sampai U-21 sekalipun. Tapi
sepakbola di level usia ini penting karena merupakan sebuah ukuran proses
pembinaan dan perkembangan seorang pemain bola. Khusus buat Indonesia, yang
mana istilah "pembinaan usia muda" dinilai jalan di tempat,
keberhasilan "Garuda Muda" menjuarai Piala AFF U-19 membuka mata
bahwa harapan itu selalu ada. Malahan itu menguatkan sebuah tesis bahwa dalam
hal bakat, Indonesia memiliki bibit-bibit yang bisa bersaing dengan
negara-negara lain. Dalam banyak turnamen yunior, rekam jejak anak-anak
"Merah Putih" sesungguhnya terbilang bagus. Contoh paling akhir
adalah, selain Piala AFF U-19, wakil Indonesia di Danone Nations Cup, yang
disebut-sebut sebagai Piala Dunia-nya untuk anak-anak usia 10-12 tahun,
berhasil menduduki peringkat kedelapan dari 32 negara.
Mengutip Coach Timo
Scheunemann, Indonesia memang punya bibit-bibit yang unggul. Masalahnya, ceritanya
bisa lain ketika para pemain itu mulai menapak ke jenjang yang lebih tinggi.
Sistem pembinaan, yang disusul kemudian oleh kultur, iklim dan juga sistem yang
dirancang dan dikelola oleh mereka-mereka yang memiliki otoritas membangun
sepakbola di negeri ini, bisa menjadi sebuah pertaruhan di masa depan.
Timnas U-19 ini harus diakui memang sangat menjanjikan. Kalangan pengamat
maupun masyarakat awam bersepakat bahwa tim ini bisa bermain, baik secara fisik
maupun taktik. Pelatih Indra Sjafri, yang dikenal gemar blusukan ke
pelosok-pelosok untuk mencari pemain-pemain muda berbakat, layak diberi credit point dalam hal ini.
Yang paling kentara adalah, euforia yang seketika terbentuk setelah tim ini
menjuarai Piala AFF bulan lalu, mencerminkan betapa masyarakat kita haus dan
dahaga pada prestasi. Kemenangan dan menjadi juara sudah lama menjadi mimpi
besar bangsa ini di dunia sepakbola, setelah terakhir kali meraihnya 22 tahun
silam.
Harus diakui, kecintaan masyarakat Indonesia pada timnasnya sungguh luar biasa,
dan sering kali bikin geleng-geleng kepala. Pada sebagian orang, harapan untuk
melihat timnas jadi juara tak pernah padam, betapapun berkali-kali itu pula
mereka mesti kecewa. Maka timnas U-19 ini seperti oasis di gurun pasir, laksana
matahari jam setengah enam pagi, yang datang untuk menyirnakan kegelapan malam.
Timnas U-19 ibarat superhero dalam komik-komik, yang kemunculannya
selalu dinanti-nantikan publik di saat kejahatan merajalela. Ketika mereka
datang, penonton bertepuk tangan, bernafas lega. Di ranah sepakbola Indonesia,
miskin prestasi sudah seperti sebuah "kejahatan" yang harus dibasmi,
supaya kelangsungan hidup sepakbola itu sendiri bisa berjalan dengan lebih
baik. Dan timnas U-19 adalah superhero itu. Timnas U-23, yang punya peluang bergabung
dengan mereka untuk membasmi kejahatan itu, sayangnya gagal. Mereka tak mampu
menjadi juara di kandang sendiri di turnamen Islamic Solidarity Games di Palembang
beberapa waktu lalu.
Lalu kualifikasi Piala Asia U-19 datang, panggilan tugas lagi untuk sang
"pencerah", timnas U-19. Sejauh ini, performa mereka juga cukup
bagus: menang 4-0 atas Laos, lalu menang juga 2-0 atas Filipina.
Sumber :
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/10/12/124443/2385225/1490/2/timnas-u-19-sebagai-investasi-sepakbola-indonesia
http://www.riaupos.co/2337-opini-eforia-dan-harapan-timnas-u-19.html#.UobYric-0Ys