Sabtu, 16 November 2013

Frekuensi Penerbangan di Soekarno-Hatta Akan Dipangkas






NAMA            : DELLA IRFIANIS
NPM               : 21211825
KELAS           : 3EB10


Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan angkat bicara soal padatnya frekuensi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.  Menurut Dahlan, padatnya frekuensi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta akibat banyaknya jadwal penerbangan maskapai penerbangan di Tanah Air. Karena itu, Dahlan mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi pengurangan frekuensi penerbangan sebagai solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Dahlan menilai, saat ini, frekuensi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sangat padat sehingga tidak efisien bagi calon penumpang yang kerap harus menunggu lama jadwal keberangkatannya.
"Misalnya saja, penerbangan ke Lampung dengan pesawat Garuda menempuh waktu 40 menit. Tetapi, penumpang harus menunggu keberangkatan hingga 40 menit juga," tutur Dahlan di Jakarta.

Menurut Dahlan, frekuensi penerbangan yang terlalu banyak akan berimbas pada padatnya runway di bandara. Akibatnya, keterlambatan penerbangan tidak dapat dihindari.
"Apa gunanya penerbangan setiap setengah jam ada, tapi runway-nya juga antre lebih dari setengah jam," jelasnya.

Dia memberi contoh seperti penerbangan Medan-Jakarta yang saat ini terlalu banyak. Padahal, jadwal ini dapat dialihkan ke rute penerbangan lain.
"Jadi, perlu adanya tindakan yang berani dan tegas dengan memangkas frekuensi penerbangan dan adanya kerja sama satu dengan yang lainnya," imbuh dia.

Selain itu, lanjut Dahlan, untuk mendukung pemangkasan frekuensi penerbangan tersebut, harus ada rencana panjang yang perlu dilakukan oleh maskapai penerbangan, yaitu dengan mengganti pesawat berbadan besar sehingga dapat mengangkut penumpang lebih banyak dengan pesawat yang lebih sedikit.


Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com

Masyarakat Masih Andalkan Emas untuk Investasi


 




NAMA            : DELLA IRFIANIS
NPM               : 21211825
KELAS           : 3EB10


Emas masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan logam mulia satu ini. Itulah sebabnya, di beberapa pialang investasi emas menjadi komoditas yang memiliki volume transaksi tertinggi.

Padahal, dalam perdagangan bursa komoditas (PBK) dan bursa berjangka, Indonesia memiliki banyak produk nonfinansial yang menyimpan peluang menarik, karena banyak pelaku bisnis yang membutuhkan, seperti olein, cacao, dan timah.

Adalah PT Jalatama Artha Berjangka (JAB), salah satu pialang yang terdaftar resmi di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), yang memiliki volume perdagangan emas cukup tinggi. Direktur Utama JAB Jacob Ongkowidjojo, menuturkan hal itu dikarenakan komoditas tersebut diperdagangkan dalam dua sistem, bilateral dan multilateral. “Masyarakat juga lebih familiar dengan emas,” ujar Jacoeb.

Saat ini di BBJ, emas diperdagangkan dengan satuan 1 kilogram per lot, 250 gram per lot, dan 100 gram per lot. Dengan satuan seberat ini, emas menduduki peringkat teratas sistem perdagangan bilateral, dengan penawaran kontrak Loco London Gold (Loco).

Menyusul emas, dalam sistem perdagangan bilateral ada kontrak Forex (foreign exchange) atau valuta asing dan Index Saham (stock index) yang bergantian saling mendominasi. Menurut Jacoeb, kondisi itu lantaran keduanya sangat terpengaruh faktor riil. Ketika saham sangat bergejolak, pasar bermain ke Forex, bursa yang bergerak.

“Emas relatif konstan di posisi teratas karena dia punya karakteristik sendiri sebagai objek investasi,” imbuh Jacoeb.

Sementara itu, sistem perdagangan multilateral di JAB didominasi komoditas olein, produk turunan crude palm oil (CPO). Jacoeb mengungkapkan kenapa emas tidak terlalu besar dalam perdagangan multilateral dikarenakan satuan emas yang besar, sehingga tidak bisa dipasarkan secara retail. Emas justru menduduki peringkat kedua, disusul cacao, dalam perdagangan multilateral.
Diakui Jacoeb, perdagangan multilateral baru mengambil porsi 10 persen dari keseluruhan rata-rata transaksi per bulan yang mencapai 15.000 lot. Untuk meningkatkan volume transaksi perdagangan emas tersebut, JAB bersama BBJ saat ini tengah menyusun spesifikasi yang lebih kecil untuk komoditas emas, yang terdiri dari 5 gram per lot, 10 gram per lot, dan 25 gram per lot. 

“Sebagai pialang dan pemegang saham (BBJ), multilateral diusahakan bisa menyeimbangi bilateral. Membuat produk yang lebih marketable, dan mendiversifikasi produk sehingga menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.

TOPAN HAIYAN MENDARAT DI FILIPINA






NAMA            : DELLA IRFIANIS
NPM               : 21211825
KELAS           : 3EB10


Badai terbesar di dunia tahun ini, Topan Haiyan, mendarat di kawasan tengah Filipina Jumat (08/11/2013) pagi waktu setempat. Sekitar 10 juta orang diperkirakan berada di jalur badai, dan 500 ribu di antaranya telah dievakuasi. Badai topan Haiyan dikenal juga dengan sebutan Yolanda. Sebelumnya, telah dikeluarkan perintah evakuasi massal di daerah tersebut.

Layanan Astronomi, Geofisika dan Atmosfer Filipina (PAGASA) menyatakan bahwa badai tersebut membawa angin dengan kekuatan 235 kilometer per jam di dekat pusatnya, dan hembusan hingga 275 kilometer per jam.

Menurut pihak berwenang, badai topan ini bisa mengakibatkan kerusakan besar di kawasan tengah dan selatan Filipina. "Ini adalah badai topan yang amat berbahaya," jelas peramal cuaca Glaiza Escullar, "Tidak terlalu banyak gunung di jalur badai ini yang bisa mengalihkan kekuatan atau dampaknya."
Di Propinsi Bohol, sebanyak 5.000 orang yang tadinya tinggal dalam tenda, karena mereka kehilangan rumah mereka akibat gempa berkekuatan 7,2 skala Ritcher tahun lalu, telah dipindahkan ke tempat penampungan sementara.

Sementara itu, sekitar 1.000 orang di sebuah pulau di dekat propinsi Masbate terkucil akibat cuaca badai dan tinggi ombak yang terkadang mencapai tujuh meter. Di Manila, sekolah-sekolah ditutup dan perkuliahan dibatalkan.

Filipina dihantam rata-rata 20 badai topan per tahun. 'Badai topan super' adalah topan yang kecepatan anginnya dua kali lebih cepat dibanding kecepatan minimum topan. Bopha, badai terkuat tahun lalu, menghancurkan tiga kota pantai di pulau selatan Mindanao dan menewaskan 1.000 orang. Sedikitnya 10 ribu orang diperkirakan tewas di Provinsi Leyte, Filipina setelah diterjang Topan Haiyan. Hal itu disampaikan seorang pejabat polisi senior Elmer Soria, Ahad.

Topan yang menerjang menyebabkan tanah longsor dan menelan desa yang berada di pinggir pantai. Sekitar 70-80 persen bangunan di area yang dilaluinya di Leyte hancur. "Semalam kami rapat bersama gubernur dan pejabat lain. Gubernur mengatakan mereka memperkirakan jumlah korban tewas 10 ribu orang," katanya, seperti dilansir The Guardian, Ahad.

Di Tacloban, Leyte Palang Merah mengatakan jenazah bertumpuk di jalanan dan gereja. Sekitar 300 hingga 400 jenazah sudah dievakuasi. Topan super dahsyat itu mengakibatkan longsor di Pulau Samar dan Leyte sekitar pukul 04.40 waktu setempat, Jumat. Kecepatan angin yang mencapai 315 kilometer perjam itu menerbangkan atap-atap rumah dan menjadikan jalanan penuh puing-puing. Aliran listrik juga terputus.

Dengan banyaknya provinsi yang aliran listrik dan telekomunikasi terputus, para ahli mengatakan sulit mengetahui seberapa parah kerusakannya atau mengantarkan bantuan ke sana. Apalagi bandara juga terkena dampak yang parah.

Pemerintah mengatakan empat juta orang terkena dampak langsung badai yang juga dikenal dengan badai Yolanda itu. Program Pangan Dunia menggelontorkan bantuan sebesar dua juta dolar AS dan 40 ton biskuit bagi para korban untuk beberapa hari ke depan.


Sumber : http://www.republika.co.id

Jumat, 15 November 2013

TIMNAS U-19: HARAPAN MASYARAKAT INDONESIA



 


 

NAMA            : DELLA IRFIANIS
NPM               : 21211825
KELAS           : 3EB10


Ada eforia yang kini menghinggapi sepakbola Indonesia. Ketika yang senior tak kunjung berprestasi, maka ketika sekumpulan remaja ini mempertontonkan permainan dan semangat bertarung yang menawan, mimpi dan harapan itu pun dipindahkan ke timnas U-19.
Keberhasilan meraih juara Piala AFF U-19 di Sidoarjo sebulan lalu, adalah torehan gelar resmi sepakbola Indonesia setelah 22 tahun.

Indonesia terakhir meraih gelar juara di iven resmi ketika meraih medali emas SEA Games Filipina tahun 1991. Ketika itu, tim asuhan Anatoly Polosin itu mengalahkan Thailand lewat adu penalti.

Setelah itu, di banyak iven resmi yang diikuti, Indonesia nirgelar. Piala AFF (dulu Piala Tiger) hanya memberi prestasi “hampir” juara, yakni empat kali masuk final.
Sampai bulan lalu, tak banyak orang yang tidak tahu siapa itu Evan Dimas, Ilham Udin Armiyn, Maldini Pali, dan nama-nama lain di timnas U-19 itu. Tentu saja, karena mereka tidak beredar di kompetisi lokal yang mengusung cap profesional, yang lumrahnya mendapatkan ekspos besar dari media, dan dari mana pemain-pemain timnas diserap.

Anak-anak muda itu --mereka baru beberapa tahun melepas statusnya sebagai ABG (Anak Baru Gede) adalah anak-anak SSB, pemain-pemain amatir, berasal dari berbagai daerah, serta jauh dari gambaran bahwa pemain sepakbola adalah profesi yang mapan secara ekonomi.

Evan sang kapten, misalnya, ayahnya bekerja sebagai satpam sebuah pusat perbelanjaan; atau Muhammad Factur Rohman yang bapaknya berjualan pakaian; atau Maldini Pali yang orangtuanya "cuma" PNS; atau kiper Ravi Murdianto yang bapaknya bekerja sebagai sopir mobil box sales alat tulis.

Latar belakang keluarga selalu menjadi cerita menarik untuk diketahui, walaupun sejatinya bukan itu yang dicari oleh masyarakat Indonesia penggila sepakbola. Yang mereka tahu, sampai bulan lalu, anak-anak muda itu ternyata memperlihatkan sesuatu yang menjanjikan, yang selama ini entah terbang ke mana dari dunia sepakbola di tanah air: prestasi.

U-19 tentu saja bukan level yang prestisius, bahkan sampai U-21 sekalipun. Tapi sepakbola di level usia ini penting karena merupakan sebuah ukuran proses pembinaan dan perkembangan seorang pemain bola. Khusus buat Indonesia, yang mana istilah "pembinaan usia muda" dinilai jalan di tempat, keberhasilan "Garuda Muda" menjuarai Piala AFF U-19 membuka mata bahwa harapan itu selalu ada. Malahan itu menguatkan sebuah tesis bahwa dalam hal bakat, Indonesia memiliki bibit-bibit yang bisa bersaing dengan negara-negara lain. Dalam banyak turnamen yunior, rekam jejak anak-anak "Merah Putih" sesungguhnya terbilang bagus. Contoh paling akhir adalah, selain Piala AFF U-19, wakil Indonesia di Danone Nations Cup, yang disebut-sebut sebagai Piala Dunia-nya untuk anak-anak usia 10-12 tahun, berhasil menduduki peringkat kedelapan dari 32 negara.

Mengutip Coach Timo Scheunemann, Indonesia memang punya bibit-bibit yang unggul. Masalahnya, ceritanya bisa lain ketika para pemain itu mulai menapak ke jenjang yang lebih tinggi. Sistem pembinaan, yang disusul kemudian oleh kultur, iklim dan juga sistem yang dirancang dan dikelola oleh mereka-mereka yang memiliki otoritas membangun sepakbola di negeri ini, bisa menjadi sebuah pertaruhan di masa depan.

Timnas U-19 ini harus diakui memang sangat menjanjikan. Kalangan pengamat maupun masyarakat awam bersepakat bahwa tim ini bisa bermain, baik secara fisik maupun taktik. Pelatih Indra Sjafri, yang dikenal gemar blusukan ke pelosok-pelosok untuk mencari pemain-pemain muda berbakat, layak diberi credit point dalam hal ini.

Yang paling kentara adalah, euforia yang seketika terbentuk setelah tim ini menjuarai Piala AFF bulan lalu, mencerminkan betapa masyarakat kita haus dan dahaga pada prestasi. Kemenangan dan menjadi juara sudah lama menjadi mimpi besar bangsa ini di dunia sepakbola, setelah terakhir kali meraihnya 22 tahun silam.

Harus diakui, kecintaan masyarakat Indonesia pada timnasnya sungguh luar biasa, dan sering kali bikin geleng-geleng kepala. Pada sebagian orang, harapan untuk melihat timnas jadi juara tak pernah padam, betapapun berkali-kali itu pula mereka mesti kecewa. Maka timnas U-19 ini seperti oasis di gurun pasir, laksana matahari jam setengah enam pagi, yang datang untuk menyirnakan kegelapan malam.

Timnas U-19 ibarat superhero dalam komik-komik, yang kemunculannya selalu dinanti-nantikan publik di saat kejahatan merajalela. Ketika mereka datang, penonton bertepuk tangan, bernafas lega. Di ranah sepakbola Indonesia, miskin prestasi sudah seperti sebuah "kejahatan" yang harus dibasmi, supaya kelangsungan hidup sepakbola itu sendiri bisa berjalan dengan lebih baik. Dan timnas U-19 adalah superhero itu. Timnas U-23, yang punya peluang bergabung dengan mereka untuk membasmi kejahatan itu, sayangnya gagal. Mereka tak mampu menjadi juara di kandang sendiri di turnamen Islamic Solidarity Games di Palembang beberapa waktu lalu.

Lalu kualifikasi Piala Asia U-19 datang, panggilan tugas lagi untuk sang "pencerah", timnas U-19. Sejauh ini, performa mereka juga cukup bagus: menang 4-0 atas Laos, lalu menang juga 2-0 atas Filipina.


Sumber :
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/10/12/124443/2385225/1490/2/timnas-u-19-sebagai-investasi-sepakbola-indonesia
http://www.riaupos.co/2337-opini-eforia-dan-harapan-timnas-u-19.html#.UobYric-0Ys